18 Februari 2023 9:23 am

Mengenal Metode Montessori: Menumbuhkan Anak Mandiri dan Jenius

Mengenal Metode Montessori: Menumbuhkan Anak Mandiri dan Jenius
Mungkin Bunda sudah pernah mendengar sekolah Montessori sebelumnya. Ketika Bunda sedang berjalan-jalan pagi, Bunda menemukan spanduk iklan sebuah sekolah Montessori tertempel di pohon atau tiang listrik. Atau mungkin saat Bunda sedang berkendara, tidak sengaja Bunda melewati sebuah sekolah swasta dengan nama “Montessori”. Namun, pernahkah Bunda memahami secara detail apa itu Montessori?

Sekolah Montessori di Indonesia memang belum banyak. Biasanya hanya kota-kota besar saja yang menjadi tempat berdirinya sekolah Montessori. Selain itu, metode ini lebih sering digunakan di jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar saja. Ada beberapa sekolah menengah yang menggunakan metode Montessori, tapi belum banyak pula jumlahnya.

Nah, sebenarnya apa sih Montessori ini? Dinukil dari konten YouTube dari kanal Belajar Jadi Mommy, inilah Montessori.


Selayang Pandang Montessori

Metode pendidikan Montessori dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori yang berfokus pada perkembangan individu anak dan pembelajaran melalui pengalaman langsung. Maria Montessori adalah doktor wanita pertama di Italia yang berkecimpung di bidang psikologi. Dulu beliau bekerja di sebuah pusat pendidikan untuk anak yang dianggap idiot. Anak-anak yang dianggap idiot tersebut menunjukkan peningkatan dan prestasi yang melampaui anak-anak normal di Italia.

Maria Montessori lantas mendirikan Casa de Bambini, atau yang kalau diartikan menjadi Rumah Anak. Di sana, ia merumuskan metodenya. Beliau menyadari bahwa mendidik anak itu ada polanya. Beliau lantas menyebarkannya ke Amerika Serikat dan banyak negara lainnya.

Filosofi

Filosofi kunci pendidikan Montessori adalah menghormati anak. Yaps, betul. Bukan hanya menghormati orang yang lebih tua, kita juga perlu menghormati anak.

Kalau di Montessori, anak dianggap sebagai manusia yang utuh. Kita memperlakukan anak sebagaimana memperlakukan orang lainnya. Nah, Bunda ingat kan kalau anak adalah peniru yang sangat baik. Jadi, kalau kita bersikap hormat pada mereka, mereka juga akan meniru dan menerapkannya ke orang lain. Contoh sikap menghormati anak ini berupa tidak menyela mereka saat belajar, memilih materi yang mau pelajari, dan membiarkan mereka melakukan apapun untuk belajar.


Tahap Perkembangan Anak ala Montessori

1. Absorbent mind
Usia 0-6 tahun, belajar terus menerus dan setiap hari. Otak mereka selalu menyerap informasi dari sekitar. Kuncinya adalah kita harus membantu anak untuk melakukannya sendiri. Kebebasan fisik yang ingin dicapai. Kalau tahap ini sudah berlalu, mereka bisa melakukan aktivitas secara mandiri, seperti makan sendiri, minum sendiri, dll.

Anak belajar melalui indera-inderanya. Semua harus konkret, bukan abstrak. Jadi jika mengajarkan berhitung, jangan minta mereka membayangkan saja. Ajari mereka berhitung dengan benda-benda di sekitar.

Belajar dengan metode Montessori harus konkret, bukan abstrak. [https://www.freepik.com/author/freepik]
Belajar dengan metode Montessori harus konkret, bukan abstrak. [https://www.freepik.com/author/freepik]

2. Reasoning mind
Anak mulai paham alasan dan hubungan di balik sesuatu. Misal datangnya makanan adalah dari petani yang menanam, merawat tanaman dengan pupuk, memanen, dan memasoknya ke pasar. Ini usia 6-12 tahun. Anak mulai bisa membayangkan dan berpikir abstrak.

Selain dua tahap tadi, ada dua tahap perkembangan lagi nih, Bunda. Yaitu pada usia 12-18 tahun, yakni tahap transisi kehidupan rumah menjadi kehidupan bermasyarakat. Dan terakhir pada usia 18-24 tahun ketika anak menjadi dewasa dan memiliki pengetahuan bagi diri dan dunianya.

Periode Sensitif
Selain tahap-tahap tadi, Bunda juga perlu mengenal yang namanya periode sensitif. Periode sensitif adalah waktu ketika anak tertarik pada suatu hal dan tidak membuatnya lelah. Ia berkonsentrasi dalam melakukan minatnya itu. Kalau periode sensitif terlewat, nantinya akan susah bagi anak untuk kembali menemukannya.

Mikir pendidikan anak sampai pengeluaran rumah tangga bikin pusing dan stres! Stres bisa bikin kerutan di wajah lho, Bund. Cegah dengan cara ini yuk!
Mikir pendidikan anak sampai pengeluaran rumah tangga bikin pusing dan stres! Stres bisa bikin kerutan di wajah lho, Bund. Cegah dengan cara ini yuk!

Periode sensitif ini contohnya adalah kegemaran anak membaca di usia 4-6 tahun. Di setiap tahap perkembangan ada periode sensitif. Jika periode sensitif mulai terlihat, orang tua harus mengikuti dan mendampingi. Kuncinya adalah ikuti anak. Kalau anak sedang tertarik pada suatu hal, fasilitasi ia.

Metode Montessori bersifat individual dan mengikuti maunya anak. Mengikuti kemauan si kecil ini artinya hanya terbatas pada minatnya saja ya, Bunda. Bukan berarti semua keinginan di luar minatnya ini harus kita ikuti secara serta merta. Bukan membiarkan anak begitu saja, seperti membolehkannya memakan cokelat sampai lima bungkus sehari.

Oh ya, ruang kelas Montessori selalu didesain bagus karena memfasilitasi anak. Material belajar dipersiapkan agar anak bisa mengambilnya dengan mudah. Lingkungan harus dipersiapkan karena ada periode sensitif tadi, sehingga anak bisa langsung mengambil apa yang ingin ia pelajari.

Pendidikan dari dalam Diri
Montessori tidak menganggap anak adalah kertas kosong yang harus ditulisi oleh orang tuanya. Anak belajar sendiri, apa yang ia temukan akan ia pelajari. Guru dan orang tua hanya sebagai fasilitator yang mendampingi. Jadi kita tidak perlu menyela agar ia bisa mempelajari konsepnya secara mandiri.

Metode pendidikan Montessori ini logis dan realistis. Tidak disarankan fantasi dalam proses belajarnya karena anak usia 0-6 tahun belum bisa membedakan mana fakta dan fiksi. Jadi mereka mudah percaya. Akan tetapi, pendidikan Montessori mendukung imajinasi karena itu adalah kunci kreasi. Bedanya adalah seperti ini, Bunda. Fantasi membicarakan benda-benda yang tak ada, sementara imajinasi adalah membayangkan fakta.

Mikir pendidikan anak sampai pengeluaran rumah tangga bikin pusing dan stres! Stres bisa bikin kerutan di wajah lho, Bund. Cegah dengan cara ini yuk!
Mikir pendidikan anak sampai pengeluaran rumah tangga bikin pusing dan stres! Stres bisa bikin kerutan di wajah lho, Bund. Cegah dengan cara ini yuk!

Kesimpulan
Dalam pendidikan Montessori, anak-anak diberi kebebasan untuk mengejar minat mereka sendiri dan belajar pada tingkat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Kelas-kelas Montessori juga dikenal dengan lingkungan belajar yang menyenangkan dan menyediakan peralatan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Ini adalah pendidikan alternatif yang diakui di seluruh dunia dan diakui oleh beberapa negara sebagai metode pendidikan yang valid.

Tertarik untuk menerapkan metode pendidikan Montessori di rumah atau mendaftarkan anak ke sekolah Montessori? (*NAFF/Freepik)
Blog Post Lainnya
Social Media
Alamat
0856-4184-0158
0856-4184-0158
Metode Pengiriman
-
-
-
@2024 Newcolla Official Inc.