18 Februari 2023 9:16 am

Parenting ala Denmark: Kunci Sukses Pengasuhan Ala Negara Paling Bahagia di Dunia

Parenting ala Denmark: Kunci Sukses Pengasuhan Ala Negara Paling Bahagia di Dunia
Denmark selama bertahun-tahun dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia. Bahkan gelar ini tetap dipegang oleh Denmark selama 40 tahun lebih.

Padahal kenyataannya, negara yang terletak di Eropa utara dan masuk ke dalam bagian negara Nordik ini memiliki musim dingin yang berdurasi lama, membuat penduduknya menggigil, dan langit selalu tampak gelap. Belum lagi pemerintah Denmark menetapkan pajak tinggi. Lalu, kenapa mereka bisa menjadi negara paling bahagia di dunia?

Jawabannya adalah gaya pengasuhan atau parenting yang dilakukan oleh para orang tua pada anak-anaknya. Mengingat Denmark terus menerus menjadi negara paling bahagia di dunia, itu artinya generasi orang tua sukses mewariskan metode pengasuhan ini ke anak-anaknya.

Kali ini mari kita belajar parenting ala Denmark melalui buku The Danish Way of Parenting karya Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl. Mereka merangkum cara pengasuhan ala Denmark dengan singkatan P.A.R.E.N.T. Berikut ini detailnya.

1. Play

Bermain. Tips pertama menekankan pentingnya orang tua dalam memberikan waktu bermain ke anak. Bermain ini maksudnya adalah bermain bebas sesuai yang disukai dan diminati anak, bukan kegiatan terstruktur yang diatur orang tua. Main biola, main piano, main bola, dan berenang yang dipaksa bukan termasuk bermain karena merupakan kegiatan yang diarahkan orang tua. Selain itu menonton TV dan main HP juga bukan bermain karena termasuk kegiatan pasif.

Berikan waktu bermain ke anak [https://www.freepik.com/author/pch-vector]
Berikan waktu bermain ke anak [https://www.freepik.com/author/pch-vector]

Dengan bermain anak belajar cara bernegosiasi, meregulasi emosi, serta mengukur dan menguasainya ketakutan. Itulah hal yg tidak bisa dipelajari di ruang kelas.

Tips untuk memberikan kebebasan bermain anak adalah dengan mematikan TV dan gadget. Sebab, imajinasi adalah alat terpenting saat bermain. Selain itu, coba temukan area aman agar anak bisa menjelajah. Main pun tidak harus selalu dengan teman sebaya. Campur usia teman bermain sehingga anak bisa menjadi leader jika usianya lebih tua atau mengikuti aturan kalau lebih kecil dibanding teman-temannya.

2. Authenticity

Keaslian atau kejujuran. Tips yang kedua ini menekankan keaslian kita sebagai orang tua. Kita tidak dianjurkan untuk menutup-nutupi emosi dan ekspresi kita. Kita perlu jujur jika mereka bertanya. Lantas, kita menjelaskannya sesuai usia. Sejatinya anak tahu apabila kita sedang berbohong. Jika kita mengasah keaslian dan kejuruan ini, mereka bisa belajar meregulasi emosi.

Selain itu, kita diajarkan untuk tidak terpengaruh oleh persepsi orang tua lainnya. Semisal sedang ngetren mengarahkan anak untuk belajar matematika, jangan serta merta kita ikut mengarahkan anak belajar matematika juga. Siapa tahu ia punya minatnya menggambar dan melukis. Arahkan mereka ke arah yang mereka minati.

Parenting ala Denmark juga mengajarkan kita untuk memuji anak seperlunya saja dan berhati-hati saat memuji. Pujilah anak dengan prosesnya, bukan hasilnya. Misalnya anak baru saja mendapatkan nilai tertinggi di sekolah. Jangan katakan, “Bunda senang sekali karena kamu pintar.” Itu bukan pujian yang mendidik. Mereka akan berasumsi bahwa mereka pintar dari sananya, sehingga tanpa belajar akan tetap pintar. Pujilah prosesnya, misalnya dengan berkata, “Bunda senang sekali karena kamu sudah bekerja keras.”

Tetap cantik dan awet muda meski sudah punya anak? Bisa banget! Pakai bahan herbal ini aja!
Tetap cantik dan awet muda meski sudah punya anak? Bisa banget! Pakai bahan herbal ini aja!

3. Reframing

Memaknai ulang. Parenting ala Denmark mengajarkan anak untuk memaknai segala hal dengan positif meski mengalami hal negatif. Dengan begitu, mereka tidak menyalahkan keadaan maupun mengeluh. Semisal anak akan pergi ke luar rumah untuk bermain tapi tiba-tiba hujan turun. Alih-alih mengeluh, orang Denmark akan memaknai ulang dengan positif, misalnya dengan mengatakan, “Wah, akhirnya kita bisa main bersama di rumah.”

Selain itu, reframing menekankan agar kita sebagai orang tua berhati-hati dalam melabeli anak. Labelling ini bisa tertanam jadi mindset ke anak. Semakin banyak anak mendengar labelling itu, maka semakin buruk mereka menilai diri. Misalnya kita mengatai anak dengan sebutan “galak”, “tukang marah”, atau “tukang tantrum”. Itu tidak baik, Bunda.

4. Empathy

Memposisikan kita sebagai orang lain dan merasakan yang mereka rasakan. Anak yang berempati tinggi pasti suka membantu orang lain. Cara mengajarkan empati ini pertama-tama adalah dengan menjadi contoh ke anak. Orang tua juga perlu melatih empatinya. Sediakan kondisi keluarga yang berempati.

Ada dua tipe keluarga yang tidak bisa menciptakan kondisi empatik, yaitu yang penuh kekerasan, baik fisik, verbal, maupun seksual. Sebab, tumbuh di keluarga seperti itu membuat kapasitas empati anak rusak karena mentalnya terluka. Keluarga overprotektif juga tak akan membuat anak berempati. Sebab terlalu melindungi dan memenuhi semua keinginannya akan membuat anak merasa bahwa ia pusat dunia. Ia akan tumbuh egois dan narsisistik.

5. No ultimatum

Jangan besarkan anak dengan paksaan atau ancaman. Tahan amarah agar tidak membentak, memukul, atau memarahi anak secara berlebihan. Memang terkadang sulit untuk menahan emosi agar tidak kelepasan. Maka harus kita latih kesabaran kita. Tipsnya adalah dengan mengingat bahwa anak kita pada dasarnya baik. Maksud mereka bukannya buruk, hanya saja mereka sebagai anak kecil belum tahu aturan. Maka tugas kita untuk membimbingnya.

Hukuman fisik ke anak adalah pantangan terbesar. Hukuman fisik memang efektif untuk jangka pendek karena anak jadi terdiam. Namun, di masa depan ia akan mengulangi kesalahannya, tapi ia jadi lebih pintar untuk menutup-nutupinya.

6. Togetherness

Di Denmark, acara kumpul keluarga berperan besar dalam membuat mereka menjadi negara paling bahagia di dunia. Sebab, kenyamanan dan kebersamaan meningkatkan kebahagian dan mengurangi tingkat stres.

Tetap cantik dan awet muda meski sudah punya anak? Bisa banget! Pakai bahan herbal ini aja!
Tetap cantik dan awet muda meski sudah punya anak? Bisa banget! Pakai bahan herbal ini aja!

Kumpul-kumpul seperti ini disebut dengan huga. Semua anggota keluarga yang bergabung harus meninggalkan stres atau emosi mereka di depan pintu. Jadi, ketika memasuki ruangan, mereka dapat bersama-sama menikmati kebersamaan tanpa stres. Selain itu, semua harus bahu membahu, baik dalam menyiapkan makanan, membereskan sampah dan sisa makanan, maupun membersihkan rumah. Dengan begitu, semua punya ikatan keluarga yang baik.

Itulah enam poin rangkuman parenting ala Denmark. Bunda tertarik menerapkannya di rumah agar keluarga selalu bahagia dan anak tumbuh dengan tangguh dan berempati? (*NAFF/Freepik)
Blog Post Lainnya
Social Media
Alamat
0856-4184-0158
0856-4184-0158
Metode Pengiriman
-
-
-
@2024 Newcolla Official Inc.